Bangli–Balai Bahasa Bali bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangli menyelenggarakan kegiatan Pemartabatan Bahasa Indonesia di Ruang Publik. Peran pemerintah daerah, dalam hal ini, mendukung Balai Bahasa Bali dalam upaya penertiban penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik di Kabupaten Bangli disambut antusias. Demikian disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Bali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. I Wayan Tama, M. Hum., saat memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan di Gedung BMB, Setda Kabupaten Bangli, Selasa (27/3).

BangliAcara pemartabatan ini dihadiri oleh 46 peserta dari 33 Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kabupaten Bangli dan berlangsung dari pukul 8.00—14.00 Wita. Menurut I Wayan Tama, dalam paparan materi berjudul “Penguatan Bahasa Indonesia di Ruang Publik di Kabupaten Bangli”, bahwa dalam berbagai kesempatan, pengguna bahasa Indonesia sering mencampuradukkan pemakaian kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan bahasa daerah. Hal itu dimungkinkan oleh berbagai faktor, yaitu prestise, kurang sikap positif, faktor ekonomi, dan faktor sosial budaya. “Peran pemerintah itu sendiri sudah diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009, pasal 41. Untuk mengawasi pelaksanaan UU No. 24 Tahun 2009, khususnya pasal 36, 37, 37, dan 39 mengenai aturan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, media publik, dan informasi-informasi produk barang atau jasa. Semua itu harus dilakukan dengan keseriusan dan tindak nyata yang pasti dan dengan begitu kita secara tidak langsung memaksa pihak asing untuk mengikuti aturan yang kita buat, sehingga mereka akan belajar lebih banyak mengenai bahasa Indonesia yang akan membuat bahasa Indonesia lebih dikenal di kalangan dunia,” jelasnya.

Paparan Bupati Bangli, dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangli, I Nyoman Suteja, S.Pd., M.Pd. juga menyampaikan permasalahan kebahasaan di Kabupaten Bangli. Dalam paparannya “Menjaga Integrasi Bahasa Indonesia di Ruang Publik di Kabupaten Bangli”, pada intinya menyampaikan bahwa masuknya pengaruh bahasa asing ke dalam wilayah bahasa Indonesia berdampak pada penggunaan tata bahasa Indonesia itu sendiri. Namun, yang lebih penting untuk menjaga integritas bahasa Indonesia itu berawal dari pendidikan karakter dalam masyarakat. Suteja menambahkan, “Masyarakat Indonesia harus bisa menjadi masyarakat yang cerdas dalam menanggapi tuntutan zaman agar tetap menjadi masyarakat yang dinamis dalam menjaga identitas bangsa. Maka masyarakat Indonesia mestinya cerdas dalam memilah, kapan dia perlu menggunakan bahasa asing dengan tetap mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, yang membuat bahasa Indonesia lebih memiliki tempat adalah penggunanya itu sendiri.”

Kegiatan pemartabatan ini diikuti oleh 40 orang dari jajaran Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di lingkungan Kabupaten Bangli. (Ret/Adm)

 

Balai Bahasa Provinsi BaliBerita
Bangli--Balai Bahasa Bali bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangli menyelenggarakan kegiatan Pemartabatan Bahasa Indonesia di Ruang Publik. Peran pemerintah daerah, dalam hal ini, mendukung Balai Bahasa Bali dalam upaya penertiban penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik di Kabupaten Bangli disambut antusias. Demikian disampaikan oleh Kepala...
FacebookTwitterGoogle+LinkedInPrintShare